Jumat, 11 Februari 2011

INFEKSI SALURAN KEMIH


BAB II
PENYELESAIAN KASUS

  1. URAIAN KASUS
A pregnant woman aged 26 years is found to have bacteriuria at her first antenatal visit. There are no white or red cells seen in her urine. Urine culture demonstrates E.coli at account of more than 100.000 bacteria per ml, sensitive to trimethoprim, nitrofurantoin and cefalexin but resistant to amoxiciliin. Other than adegree of urinary frequency, which she ascribes to the pregnancy it self, the patient does not complain of any urinary symptoms.

Seorang wanita hamil berusia 26 tahun yang ditemukan memiliki bakteriuria pada kunjungan antenatal pertama nya. Tidak ada sel darah putih atau merah terlihat di urine nya. Urine menunjukkan adanya bakteri E.coli  terhitung lebih dari 100.000 bakteri per ml, yang sensitif terhadap trimetoprim, nitrofurantoin dan cefalexin tetapi tahan terhadap amoxiciliin. Selain peningkatan frekuensi kencing, dia menganggap frekuensi kencing diakibatkan karena kehamilannya ,pasien tidak mengeluh gejala lain berkaitan dengan kencingnya.

    II.       ANALISA KASUS:
Penyelesaian kasus  dengan menggunakan metode SOAP (Subjective,  Objective, Assesment, dan Plan) pada kasus ini adalah sebagai berikut :
*      Subyektif
Nama                         : Wanita
Umur                         : 26 tahun
Kondisi                      : Hamil

*      Obyektif


Ditemukan didalam Urin:
Bakteri E.colli
> 100.000 bakteri/ml
Sel darah putih
negatif
Sel darah merah
negatif



*      Assesment
Pasien mengalami infeksi saluran kemih yang diakibatkan oleh bakteriuria asimptomatik karena pasien positif ada bakteri dalam urin namun tanpa keluhan.
*      Planning (P)
1). Tujuan Terapi :
1.      Untuk mempertahankan urin steril selama kehamilan tanpa menyebabkan toksisitas terhadap ibu dan janin.
2.      Mencegah dan mengobati akibat sistemik dari infeksi
3.      Membunuh mikroorganisme penyebab infeksi
4.      Mencegah terjadinya infeksi ulang

2). Sasaran Terapi :
     (Dipiro, 2002)

3). Strategi Terapi :
Terapi Farmakologi :
Nitrofurantoin 4xsehari 100 mg selama 7 hari

Terapi Non Farmakologi :
1.      Asupan nutrisi dan imobilisasi.
2.      Asupan makanan
3.      Banyak minum bila fungsi ginjal masih baik.
4.      Menjaga kebersihan (higiena genetalia ekstrenal)

 4). Analisis Kerasionalan Terapi (4T 1W)

Ø Tepat Indikasi
Nama Obat
Indikasi
Mekanisme Aksi
Keterangan
nitrofurantoin
Infeksi saluran kemih
Merusak dinding sel bakteri dan menganggu metabolisme bakteri (Sukandar, 2008).
Tepat obat

Ø Tepat Obat
Nama obat
Alasan sebagai drug of choice
Keterangan
nitrofurantoin
Memiliki efektivitas yang sama dengan kotrimoksasol apabila pemakaian 7 hari, dan memiliki efek samping yang lebih rendah dari kotrimoksasol dan trimetropin.
Tepat Obat

Ø Tepat Pasien
Nama Obat
Kontra Indikasi
Keterangan
nitrofurantoin
Gangguan faal ginjal dengan klirens kreatinin kurang dari 40 mL/menit, wanita hamil aterm dan bayi berumur kurang dari 3 bulan (Gunawan, 2007).
Tepat Pasien

Ø Tepat Dosis
Nama Obat
Dosis Standar
Dosis yang Diberikan
Keterangan
Nitrofurantion
Orang dewasa 3-4 kali 50-100 mg.hari (Gunawan, 2007).
4x sehari 100 mg selama 7 hari

Tepat Dosis

Ø Waspada Efek Samping Obat
Nama Obat
Efek Samping Obat
Saran
Nitrofurantion
Anoreksi, mual, muntah, diare, reaksi paruh akut, dan kronik, neuropati periver, reaksi alergi, hepatitis (Sukandar, 2008)
-

Monitoring dan Rencana Tindak Lanjut
  1. Melihat lebih lanjut dengan melakukan pemeriksaan kultur urinnya lagi. Untuk memastikan ada kesembuhan atau tidak.
  2. Monitoring keberhasilan terapi secara klinis atau secara mikrobiologis (kultur ulang).

Konsultasi, Informasi dan Edukasi Pasien (KIE)
Ø  Memberikan informasi tentang obat baik mengenai nama obat, dosis, aturan pakai dan cara penggunaan obat.
Ø  Memberikan informasi, instruksi, dan peringatan kepada pasien dan keluarganya tentang  efek terapi dan efek samping yang mungkin timbul selama pengobatan.
Ø  Memberikan edukasi kepada pasien bahwa perlu menjaga kebersihan agar tidak terinfeksi bakteri.

BAB III
PEMBAHASAN


Dalam praktikum ini, pasien mengalami infeksi saluran kemih yang diakibatkan oleh bakteriuria asimptomatik karena pasien positif ada bakteri dalam urin namun tanpa keluhan (asimptomatik). Sesuai dengan jumlah bakteri E.colli lebih dari 100.000 bakteri/ ml.

Bakteriuria di wanita hamil meningkatkan risiko bakteriuria asimtomatis sebab terdapat bakteri berjenis ≥ 105 CFU (Colony Forming Unit)/mL di biakan cara air kemih porsi tengah bersih (clean voided midstream) dari seseorang yang tanpa gejala (ISK). Bakteri yang paling sering menyebabkan Infeksi Saluran Kemih (ISK)1–3 ialah Escherichia coli (60–90%), bakteri ini merupakan flora normal di vagina dan rektum.
Ukuran panjang uretra wanita hanya 3 sampai 4 cm, hal ini memudahkan flora normal berkoloni di saluran pencernaan dan vagina serta di air kemih. Patofisiologis terjadinya peningkatan morbiditas bakteriuria asimtomatis di wanita hamil diperkirakan berdasarkan dua perubahan fisiologis utama di traktus urinarius, yakni terjadinya stasis air kemih, dilatasi ureter dan kandung kemih. Saluran air kemih wanita hamil mengalami penekanan akibat uterus yang membesar dan perubahan sistim hormon progestasional. Peristaltik ureter secara umum mengalami kelambatan selama kehamilan, dan pada derajat tertentu di kebanyakan wanita terjadi dilatasi ureter terutama di sisi kanan saat umur kehamilan lanjut. Efek progesteron di tonus otot polos dan penekanan ureter oleh uterus telah dipikirkan sebagai penyebab utama terjadinya hidroureter.
Komposisi air kemih wanita hamil mengandung bahan nutrisi tinggi berupa beberapa vitamin yang terlarut dalam air, asam amino dan glukosa yaitu faktor yang menunjang pertumbuhan bakteri. Bahan tersebut dikeluarkan dalam jumlah yang lebih besar di dalam air kemih wanita hamil dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil. Ambang ginjal yang rendah untuk mengekskresi glukosa dan asam amino serta penurunan fungsi pemekatan ginjal yang menyebabkan sifat air kemih menjadi tidak terlalu asam selama kehamilan akan mendukung media, yaitu hal yang sangat baik untuk proliferasi mikroorganisme di ureter.
Sampai saat ini standar diagnosis laboratorium untuk bakteriuria asimtomatis adalah perbenihan air kemih. Penampungan air kemih untuk perbenihan didapatkan dengan cara clean-voided midstream atau air kemih porsi tengah bersih. Hasil perbenihan yang didapat dengan Columbia sheep blood agar, Mac Conkey dan CLED (Cystine Lactose Electrolyte Deficient) tampak koloni ≥ 105 CFU/mL air kemih. Begitu pula yang didapatkan dari hasil laboratorium pasien.
Terapi farmakologi menggunakan nitrofurantoin sebagai antibiotika pilihan pertama untuk pengobatan bakteriuria kehamilan, meskipun ada yang mengatakan harus hati-hati dalam menggunakan antibiotikanya. Ternyata diberitahukan bahwa antibiotika ini tidak menyebabkan teratogenik atau malaformasi janin, sehingga antibiotika ini dinyatakan aman untuk wanita hamil. Kepekaan terhadap bakteri E.Colli cukup tinggi yakni 64,28% (Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, Vol. 12, No. 3, Juli 2006: 103-109).
Nitrofurantoin digunakan selama 7 hari sesuai pengobatan pertama pada penyakit infeksi saluran kemih asimptomatik pada pasien kehamilan (PRODIGY gudance).
Pasien telah mengalami resistensi terhadap amoksisilin, Resistensi dapat terjadi oleh karena: 1) bakteri memproduksi enzim yang dapat merusak atau mengawaaktifkan (inaktivasi) antibiotika, sifat tersebut ditentukan oleh gen yang dibawa oleh plasmid dan dapat diturunkan atau dipindahkan dari bakteri yang satu ke bakteri yang lain, 2) mutasi genetik bakteri, mengubah protein dan letak ikatan (binding sites) dari antibiotika, 3) bakteri mengubah metaboliknya, sehingga tidak dipengaruhi oleh antibiotika, 4) bakteri mengubah penelusan (permeabilitas) membran sel, sehingga sukar ditembus oleh antibiotika.       
 
Terapi non farmakologi untuk pasien adalah Asupan nutrisi dan imobilisasi, asupan makanan, banyak minum bila fungsi ginjal masih baik, menjaga kebersihan (higiena genetalia ekstrenal). Terapi non farmakologi sangat menunjang keberhasilan terapi.
Melakukan monitoring dengan melihat lebih lanjut dengan melakukan pemeriksaan kultur urinnya lagi. Untuk memastikan ada kesembuhan atau tidak; Monitoring keberhasilan terapi secara klinis atau secara mikrobiologis (kultur ulang).
Adapun konsultasi, informasi dan edukasi yang diberikan kepada pasien untuk menunjang proses pengobatan pasien adalah sebagai berikut :  Memberikan informasi tentang obat baik mengenai nama obat, dosis, aturan pakai dan cara penggunaan obat; Memberikan informasi, instruksi, dan peringatan kepada pasien dan keluarganya tentang  efek terapi dan efek samping yang mungkin timbul selama pengobatan, serta Memberikan edukasi kepada pasien bahwa perlu menjaga kebersihan agar tidak terinfeksi bakteri.


KESIMPULAN
Ø  Pasien mengalami infeksi saluran kemih yang diakibatkan oleh bakteriuria asimptomatik karena pasien positif ada bakteri dalam urin namun tanpa keluhan.
Ø  Terapi farmakologi yang digunakan yaitu Nitrofurantoin 4xsehari 100 mg selama 7 hari
Ø  Terapi non farmakologiyang diberikan untuk pasien adalah Asupan nutrisi dan imobilisasi, asupan makanan, banyak minum bila fungsi ginjal masih baik, menjaga kebersihan (higiena genetalia ekstrenal).



1 komentar:

  1. Blog yang sangat bermanfaat, Sifilis memiliki nama lain raja singa. Penyakit ini dikategorikan sebagai penyakit yang bersifat menular, dan juga kronis. Jika Anda bertanya tentang apa yang menyebabkan seseorang terserang penyakit raja singa ini, yaitu Treponema Pallidum. Sifilis dapat menyerang berbagai organ tubuh, contohnya otak, susunan saraf, dan juga organ jantung. Penyakit sifilis juga tak pandang bulu, penyakit ini menyerang baik pria maupun wanita, serta tak ada batasan umur, semua berpotensi terkena. Mari baca selengkapnya.

    Penyebaran penyakit yang disebabkan infeksi bakteri Treponema Pallidum ini melalui IMS atau Infeksi Menular Seksual. Jadi hubungan seksual antara seseorang dengan orang yang lain yang terinfeksi sifilis – lah yang mengakibatkan penularan terjadi. Tetapi terdapat sebab lain sifilis bisa menular, selain dari hubungan intim dengan orang yang terinfeksi. Adapun cara penularan lain tersebut yaitu pajanan tubuh penderita, contohnya dari darah.

    Tetapi dari fakta di lapangan menunjukkan yang terbanyak tertular sifilis adalah melalui kontak langsung dengan penderita. Hubungan seksual baik berupa seks anal, vagina, dan oral kesemuanya memungkinkan penularan sifilis tersebut. Juga, jarum suntik pun bisa menjadi sarana penularan. Itulah sebabnya para pengguna narkoba yang memakai jarum suntik seringkali tertular sifilis, termasuk orang yang memiliki hobi menindik telinga dan tato.

    Andrologi | bagaimana mengatasi kulup panjang

    Apakah sunat sakit | Metode sunat modesn terkini

    hubungi Dokter | Chatting gratis

    BalasHapus